I Have Nothing To Wear

by - Sunday, January 09, 2022



“Aku nggak ada baju lagi, jadi aku harus pakai apa?.”

Entah benar-benar nggak ada, atau kadang kita saja yang kurang memperhatikan isi lemari kita saking banyaknya. Sampai ketika kita bener-bener butuh, kita nggak tau baju mana yang bisa dipakai dan di mana kita nyimpan baju-baju itu. Atau parahnya sih selama ini kita aja yang selalu salah belanja sehingga nggak ada satupun baju yang cocok untuk acara tersebut.

Salah Belanja

Kesalahan dalam memilih barang seringkali kejadian di aku, karna most of the time aku kalau belanja kebutuhan sandang tuh secara online jadi sering miss di ukuran dan cuttingannya gak cocok di aku.  Diskon dan trendy pieces juga seringkali jadi alasan untuk memasukan barang ke cart belanjaan. Sampai kadang aku mengabaikan ukuranku sendiri dan merasa apa yang aku lihat di gambar adalah apa yang nantinya aku lihat saat memakainya di depan cermin. Aku lupa kalau aku membeli baju yang aku dapat hanyalah bajunya, bukan dengan bentuk tubuh modelnya.

Ditambah lagi dengan algoritma social media yang secara nggak langsung membuat kita menjadi lebih konsumtif agar bisa keep up with the trend. Seperti gimana gadis modis yang berulangkali menunjukkan hasil belanjannya yang sekarung, liat outfit seleb yang trendy dan sebagainya. gara-Gara hal itu juga trend cycle jadi lebih cepat, kadang kita baru saja  ‘keracunan’ membeli sepasang heels, sudah ada lagi heels lain yang terus-terusan lewat di layer handphone kita.

Value dari Selembar Kain

Untuk seseorang yang kurang mampu untuk membeli sustainable clothing, majority pakaian yang aku beli adalah pakaian-pakaian dengan kualitas yang hanya sekedar oke di range harga tertentu. Sehingga aku nggak terlalu ngerasa sayang kalau-kalau pakaian tersebut tidak sesuai yang aku bayangkan. Dan menggunakan acara-acara tertentu sebagai alasan untuk beli pakaian baru.

Yang mana selain nggak sehat untuk dompet, cara berpikirku yang kaya gitu, secara gak langsung membuat aku makin susah mengerti dan mmengkurasi pakaian apa yang sebenernya aku mau dan cocok untuk kegiatan yang biasa aku lakuin setiap harinya.

Kalian kaya gitu juga gak sih?

Kalau Cuma kejadian sekali dua kali sih okay, tapi kalau terus-terusan salah belanja kira-kira jadi kaya apa penampakan lemari kita nantinya? Apalagi kalau masih menyimpan setiap lembar pakaian tersebut? Apa nggak malah bikin kita kerepotan?

Menumpuk barang yang tidak bisa dipakai

Beberapa orang mungkin bangga dengan jumlah pieces yang mereka simpan di lemari. Tapi tentu berbeda dengan aku atau mungkin kalian, apalagi dengan adanya masalah tadi, aku jadi punya banyak pieces yang tidak bisa aku gunakan dan jumlahnya malah melebihi pakaian yang biasa aku gunakan.

Jeans yang tidak muat, pakaian yang nggak sesuai sama style, pakaian yang cocok untuk kegiatan kita. Baju-baju yang seperti itu kadang malah menutupi semua pakaian yang kita punya dan kita jadi kesulitan sewaktu memilih pakaian yang cocok untuk acara-acara yang mengharuskan sedikit dress-up, dan berakhir pakai pakaian yang itu-itu aja.

Beberapa bulan yang lalu, seorang temen blogger menulis tentang sebuah acara variety show korea yang berjudul the house detox, di acara tersebut mereka membersihkan rumah seseorang kemudian menatanya kembali sehingga berfungsi dengan baik tanpa menambah perabot baru. Di satu episode, mereka mendapatkan klien presenter acara cuaca yang mengoleksi ratusan tas-tas selempang dengan harga murah semenjak awal karirnya, karna dia ngerasa nggak mampu membeli tas branded.

Yang mana hal itu sangat relatable dengan sebagian besar dari kita dengan status ekonomi menengah ke bawah, yah setidaknya kalau aku nggak bisa beli barang mahal aku harus punya beberapa agar bisa dipakai bergantian. Tapi hal ini membuat kita terus membeli barang-barang dengan alasan sekedar lucu, mumpung diskon dan lain-lain, kita nggak merasa memiliki dan menghargai keberadaannya di lemari kita.

Ketika bersih semua akan terlihat

Di acara itu juga salah satu host bilang, semakin bersih dan rapi maka semakin terlihatlah semua barang yang kita miliki. Yah mereka selalu memulai acara bersih-bersih dengan decluttering dan benar-benar mengosongkan ruangan, sehingga lebih mudah untuk memilah dan menatanya kembali.

Buat sebagian dari kita mungkin membuang barang terasa saying banget, walaupun barang yang kita beli harganya gak begitu mahal. Dan aku juga gak akan menyuruh kalian untuk membuang begitu saja pakaian-pakaian yang kalian punya.

Tapi coba yuk kita beresin. Kita luangkan waktu lebih buat mengeluarkan seluruh isi lemari terus kita sortir. Mana pakaian yang selalu kita pakai, mana pakaian yang cocok untuk acara yang sering kita hadiri. Setelah itu tata dengan rapi di lemari, kalian bisa pakai metode Marie Kondo atau metode apapun, yang penting usahakan semua pakaian tersebut terlihat.

Terus gimana dengan pakaian sisanya? Coba perhatikan kembali bagaimana kondisinya, apa kita masih bisa memakainya dan lain-lain. Kalau kondisinya sudah rusak sisihkan karna gak mungkin bakal kamu pakai lagi, kalau masih bagus kamu pilah lagi apakah itu sekiranya masih layak dijual atau didonasikan atau mungkin bakal kalian pakai di suatu kesempatan, kelompokkan di dalam tempat terpisah terus simpan terpisah dengan pakaian yang tadi sudah kamu sortir.

“Is It Work on Me?

Aku sendiri sebenernya sudah nggak terlalu menyimpan banyak baju lagi, jadi gampang banget buat aku milih-milih. Dan kalaupun belanja aku bakal perhatiin betul-betul ukurannya, bakal aku bawa kemana pakaian itu, dan apakah pakaian itu bisa aku mix and match sama apa yang udah aku punya. Biasanya aku nggak akan langsung checkout, tapi aku simpan dulu di chart atau wishlist , terus aku tunggu beberapa minggu atau bulan, kalau ternyata aku ngerasa aku udah nggak sreg dan nggak nemu bakal aku pakai seperti apa biasanya bakal aku hapus.

*****

Kalau kalian ngerasa sama kaya aku, kalian bisa nyoba cara aku itu. Atau kalian mungkin punya cara lain untuk mengatasi itu? Yuk share pengalaman dan pendapat kalian di kolom komentar.

image source : ikea

You May Also Like

4 comments

  1. Saya pernah melakukan metode Marie Kondo untuk 'menyingkirkan' barang-barang berlebih dari lemari saya...mostly baju sih. I was literally did what MK taught. Barang-barang yang sudah siap buang, saya elus-elus sambil saying thanks karena sudah menjadi bagian dari hidup saya selama ini.

    Tentu saja, itu saya lakukan sendirian. Bahaya kalau sampai dilihat sama istri/anak, wkwkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara gak langsung, barang-barang emang agak mempengaruhi emosi hahahaha

      Delete
  2. Alhamdulillah, selama ini sy masih bisa mengendalikan nafsu belanja. Jadi emang belanja baju kalo yg lama udah lusuh atau gak muat

    ReplyDelete
  3. Saya juga melakukan hal yang sama, sebelum beli pikirkan lagi matang-matang. Suka sesaat atau memang membutuhkan, kalau membutuhkan lihat di lemari lagi, adakah yang serupa atau gimana. Sekarang pertimbangan buat beli-beli barang harus lebih selektif sih haha

    ReplyDelete