Value dari Seonggok Upah

by - Monday, February 08, 2021



Pagi tadi aku scrolling di timeline Linkedin, ada satu postingan yang cukup menyentil batin. Dalam postingan itu, disebutkan ada seorang teman dari mbak si TS yang membandingkan gaji yang ia dapatkan di Jakarta dan gaji si TS yang disebutkan bekerja di Bali. Sayang sekali sewaktu mau aku komentari ataupun share, postingan tersebut sudah hilang.

UMK di Bali itu setahuku sekitar 2,5jt, sedangkan UMK Jakarta I bet it was more than 4jt. Jadi dari situ aku menarik kesimpulan adanya perbedaan harga makanan dan tempat tinggal yang cukup jauh. Bali memanglah tempat tinggal turis, jadilah ada beberapa tempat makan atau retail dengan harga berbeda karena target marketnya memang turis, sedangkan untuk warga lokal aku yakin masih banyak lokasi belanja dan makan yang masih masuk akal dengan kantong mereka karena pastinya Pemerintah Daerah memberikan patokan UMK 2,5jt tersebut bukan tanpa sebab.

Sedangkan untuk Jakarta sendiri, aku nggak bisa terlalu banyak berkicau karena aku nggak tahu bagaimana gaya hidup orang sana. Tapi kalau dibandingkan dengan Surabaya, yang UMKnya nggak terlalu beda jauh dengan Jakarta, memang ada sedikit perbedaan yang berbanding lurus antara gaji dan gaya hidup.

Di Surabaya, pada umumnya mereka yang bekerja di toko dengan gaji sekitar 600ribu-1,5jt akan sangat jarang makan di fastfood, berbeda dengan yang gajinya 4jt atau lebih yang lebih rela jajan boba hampir setiap hari.

Orang dengan gaji 4jt dan dikelilingi orang dengan gaji serupa, mungkin harus rela setiap hari diseret teman untuk makan siang di mall. Hal yang mungkin cuma dilakukan sebulan sekali oleh mereka yang gajinya 1jt.

Dari sini sini aku ambil kesimpulan, sebenarnya setiap gaji yang diterima itu akan ada marketnya sendiri sendiri. Alias setiap gaji diberikan oleh sebuah perusahaan pasti bukan tanpa sebab melainkan sudah dihitung dengan perbandingan tenaga yang diberikan dan hasil pekerjaan si pegawai. Dan setiap regional pasti ada patokan yang berbeda melihat kondisi dari regional tersebut.

Membandingkan angka gaji yang diterima mentah-mentah tanpa pertimbangan yang tepat itu menurutku sedikit kurang tepat. Karena pasti ada value yang dikeluarkan untuk mendapatkan gaji sejumlah yang diterima, kecuali si pegawai makan gaji buta.

Aku seringkali mendapat pertanyaan seperti ini dari teman-teman, memangnya kalo kamu dapat gaji segitu cukup buat hidup sama jajan? Tergantung, tergantung bagaimana bagaimana aku menghargai uangku setiap bulannya. Adakalanya aku bisa nabung lebih dari yang aku perkirakan, adakalanya aku cuma nabung sesuai target aku setiap bulannya. Karena setiap bulannya aku pasti ada perincian wishlist dan kebutuhan serta post pengeluaran tak terduga yang berbeda, misalnya harus kondangan ke berapa tempat.

Uang itu kaya tamu, cuma mampir dan lewat. Kalau diperlakukan dan dihargai dengan baik, mungkin dia bisa membawakan rejeki dan kenyamanan kepada kita di masa depan. Kalau diperlakukan seenak hati tanpa berpikir, bukan tidak mungkin akan membawa petaka.

Jadi ingat satu kalimat di video/podcast yang pernah aku denger somewhere, "Hitung semua kebutuhan, keinginan, tabungan dan dana darurat. Karna mungkin saja kamu butuh uang lebih atau bahkan you don't need that much." Karena finansial itu sesuatu yang sangat personal dan nggak bisa dihitung dengan rumus yang sama untuk setiap individu. Bicara soal pendapatan bicara soal value, bukan bicara soal nominal.

You May Also Like

10 comments

  1. Bener banget kak kalau gapandai pandai simpan uang nanti rugi sendiri kedepannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya uang itu kaya boomerang, bisa jadi senjata bisa jadi juga bakal nyerang balik ke dompet kita wkwkw.

      Delete
  2. Kalimat yang ini aku setuju banget!

    "Kalau diperlakukan dan dihargai dengan baik, mungkin dia bisa membawakan rejeki dan kenyamanan kepada kita di masa depan. Kalau diperlakukan seenak hati tanpa berpikir, bukan tidak mungkin akan membawa petaka."

    Ketika kopid datang setahun lalu, banyak yang berubah dari soal gaya hidupku. Ternyata gapapa dong nggak harus lifestyle nongkrong dan ngopi cantik. Gak harus beli baju tiap bulan, gak harus nonton bioskop, gak harus liburan tiap tanggal merah. Semua kembali ke prioritas kita sendiri ya.

    Apalagi mah soal gaji, itu udah rejeki masing2 sih menurut aku. Aku lebih baik gak tahu gajinya teman sekalian, daripada ntar aku kepikiran kenapa dan kenapa hahahaha.

    Gaji itu subyektif banget lho. Kita punya kebutuhan pribadi, pengalaman kerja, serta kecakapan yang dinilai oleh gaji tersebut. Kalau merasa gaji kekecilan, gak usah ngiri deh sama teman yang gajinya lebih besar. Mending cari kerjaan baru yang akan membayar lebih besar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beber banget mbak, walopun jobdesknya sama persis bisa jadi nominal gajinya beda. Tinggal gimana kita milihnya dan sesuain sama kebutuhan aja. Dan kalau memang ngerasa nggak cukup pasti ada jalan lain, entah cari kerjaan baru atau dengan proposal pengajuan gaji.
      Gatau kenapa harus bersyukur atau enggak, berkat keadaan kita jadi terbiasa buat nggak sering sering jajan jadi dompet bisa sedikit selamat ya wkwkwk.

      Delete
  3. Setuju, Re~ menurutku pendapatan itu bukan sesuatu yang bisa dibandingkan mentah-mentah, that's why topik ini agak sensitif untuk dibahas olehku kepada teman-teman sepermainan karena takut menyinggung :(
    Akupun yakin UMR yang ditetapkan pemerintah berdasarkan hasil riset kehidupan sosial masyarakat di regional tsb, jadi kalau membandingkan UMR Jakarta dengan regional lainnya bisa jadi sangat beda jauh karena biaya hidup di Jakarta itu tinggi banget 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ditanya temen agak gidik gidik juga buat nyebutin nominal hahahahaha, jadi jawabannya ya UMR lah.
      Yah kalau bandingin kaya 1 : 2 kaya matematika gak bakal dapet jawaban yang tepat, namanya gaji yang diterima dan dikelola sendiri jawabannya seberapa kamu menghargai pekerjaan yang kamu lakukan.

      Delete
  4. Iyes iyes setuju
    Ga bisa dibandingkan begitu ajaaa.. Soalnya kan beda-beda ya biaya hidup di suatu daerah. Tentu Jakarta dan Surabaya akan lebih tinggi dibandingkan orang-orang di daerah. Aku yang sudah ngerasain hidup di 3 kota berbeda tuh berasa banget.
    Kalo di Bandung, nasi ayam goreng itu bisa dapet 17rb, sedangkan di Jakarta, boro-boro bisa segitu.. Ya bisa sih segitu, tapi ayam gorengnya cuma setengah potong paha 😅😅
    Makanya pas aku pindah ke Jakarta tuh berasa bener pengeluaran makan lebih besar dibanding pas aku tinggal di Bandung huhuhu
    Apalagi kalo kerja di kantoran yang mall2 gitu. Beuh lebih gede lagi itu biaya makan siangnya. Sekali makan siang bisa lebih dari 20rb loh ckckck Belom lagi kalo ngekos... Uda berapa kan ituu pengeluaran ckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak bisa bayangin kudu berapa biaya hidup aku kalau kerja di lingkungan BSD gitu hahahahaha. Jakarta kaya kurang bisa dijadiin kota tinggal. Aku denger juga banyak banget yang lebih milih tinggal di luar JKT walaupun kerjaan di sana. Mungkin gara gara itu juga walaupun kudu rela berangkat lebih awal biar bisa tepat waktu.

      Delete
  5. Hiks baca ini, saya jadi kesentil, kalau saya tuh borosnya di makanan.
    Dan sedihnya lagi, saya ga kebiasa makan di luar waktu kecil, jadinya perutnya agak sensitif.
    Belum lagi saya udah hilang selera duluan, kalau liat tempat makan yang ga meyakinkan kebersihannya.

    Jadilah dulu, ketika saya ngekos dan ga ada dapurnya, gaji rasanya abis ke makanan semua.

    Karena saya picky makannya, harus di tempat yang bersih hiks.
    Belum lagi jajanan.
    Ckckck.

    Sekarang, PR terbesar saya terhadap mindfulnes ke uang, baru kerasa setelah ga kerja lagi, jadi freelance kayak sekarang, ditambah saya dan anak-anak ga biasa makan sembarangan, udah deh makin rempong hahaha.

    Tapi saya setuju, tiap gaji itu ada market nya sendiri.
    Ga bisa kita membandingkan sama rata :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. I feel you, Mbak Rey. Sumpah kalau soal makanan itu kaya sesuatu yang gak bisa diabaikan, kalo maunya makan ya makan aja, tapi pas hitung hitungan tiba tiba pos pengeluaran terbesar ada di makanan hahahaha.

      Kalau udah sama keluarganya hitung hitungannya pasti makin susah ya mbak, banyak pengeluaran tak terduganya. Tapi alhamdulillah sih, kalau makanannya sehat sehat insyaallah juga bisa tetep sehat. Mending spending di makanan dari pada spending ke obat-obatan.

      Delete