Sebuah Tas Mahal Tidak Akan Mampu Menyembuhkanmu

by - Sunday, November 15, 2020



Sebulan terakhir ini aku kembali ngerasa krisis identitas, di otakku kembali muncul pertanyaan kaya kenapa aku masih di sini, atau apakah aku ngelakuin sesuatu yang benar atau kenapa aku masih jauh dari harapanku sendiri. Salah dua yang aku lakukan untuk melampiaskan adalah belanja sama bungee eating. Kebiasaan yang bener-bener nggak sehat. Nggak terhitung berapa kali aku order junkfood dengan menu untuk 2-3 orang dan aku makan sendiri, atau pergi ke ITC buat nyari blouse yang aku idam-idamkan (beruntungnya sih I can't find what I want), beli benda-benda nggak penting di Miniso, atau semudah masukin barang ke chart belanja di marketplace yang udah susah payah aku bersihin awal bulan lalu.

Puncaknya setelah gaji masuk rekening kemaren, aku keinget setahun lalu aku melihat mbak-mbak pakai sling bag Tory Burch di GWalk dan aku liatnya kaya lucu banget gitu loh. Bentuknya simpel dan logonya juga nggak over (logo TB biasanya kan besar-besar dan aku liatnya kaya risih), I want that bag again. Tapi agak nganu juga, mana mungkin aku beli tas kecil yang cuma muat handphone sama dompet dengan harga 2 kali gaji bulananku, mana lagi pandemi gini dan akupun bakal nggak bisa bawa tas kaya gitu keluar kecuali bawa tas lain.

Tapi keinginan tersebut makin hadir. Well setahun lalu, sesaat setelah ngelihat tas tersebut, aku juga langsung browsing dan naksir sampai-sampai aku jadikan SnapWA dengan tujuan 'siapa tau bisa terbeli nanti'. Tapi yang ada malah Ibuk ngomel-ngomel dengan bahasa yang nge-jleb, "Kid, that was too expensive, you wont afford that thing." Dan sifat rebelku pun kembali, kaya kenapa aku nggak boleh milih? Apa yang salah kalau aku pengen itu? I make money and I can save for that. Tapi entah bagaimana keinginan tersebut bisa hilang (walaupun kembali lagi sekarang).




Semakin kuredam rasa ingin memiliki malah semakin besar. Aku berusaha melipur diri dengan, "ayolah masih ada tas bagus dan lebih affordable di HM atau Zara." Aku end up mengunjungi store HM dan nangkring di sale section dengan penuh kebimbangan, walaupun akhirnya aku purchase juga. Tapi keinginanku terhadap tas TB masih belum terobati, bahkan semakin meradang kaya, "kalau saja aku gak beli tas tadi, aku bisa nambahin tabunganku buat beli yang lebih oke."

Sampai tadi pagi, aku membaca buku karangan Jeong Moon Jeong yang berjudul Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang. Aku sampai di satu bab dengan judul Tas Mahal Tidak Mendatangkan Kebahagiaan. Dia menceritakan bagaimana dia hidup di lingkungan mahal dan pernah ingin mengikuti gaya hidup yang mahal tersebut. Lalu apa yang beliau dapatkan walaupun sudah membelinya. Seperti bab tersebut membuka apa sebenarnya aku jauh di dalam sana, sesuatu yang ingin kututupi. Jujur aku masih di step itu, secara finasial mungkin lebih baik tapi aku belum di step yang bisa membeli sesuatu tanpa berpikir. But once again, I want to show is that I'm quite better
 
Ketika lagi main ke mall, kadang aku mantengin orang-orang sambil nebak merk outfit yang mereka pakai head to toe. Ketika yang aku lihat apa yang mereka pakai tidak jauh beda denganku, it doesn't affect anything to me. Tapi ketika aku melihat merk-merk yang berharga lebih dari gaji bulananku, aku ngerasa bener-bener rendah diri, apalagi kalau yang pakai keliatannya gak jauh beda usianya sama aku. Benar-benar persis dengan apa yang diungkapkan Jeong Moon Jeong, dalam bab tersebut.

Iya setidaknya aku ingin punya satu statement piece. Memakai baju yang bermerk full head to toe mungkin malah aku kelihatan memakai barang fake. Tapi berpakaian rapi dengan satu statement piece maybe would make me look better.

Statement. Statement. Statement.
 
Sebenernya aku ingin statement dari siapa aku pun nggak ngerti. Toh aku hidup sendiri dan nggak terlalu sering bertemu orang, di kerjaan aku juga pengennya hidup kaya orang mati alias nggak pengen terlalu mencolok secara penampilan. Orang yang sengaja papasan pun nggak akan peduli sama penampilanku atau kalaupun peduli mereka akan ngelihat kalau aku penyuka barang fake (I know that I don't deserve to look good with expensive thing).

Well dear, expensive bag wont make you feel better. At least itu yang berusaha aku tanamkan di otakku sejak pagi ini, aku pengen meredam keinganku untuk memiliki sesuatu yang harganya lebih dari pendapatanku. Maybe I would make sure that I don't really need that so I don't have to own that, or maybe next time when I got paid more than it.


You May Also Like

10 comments

  1. Sering denger orang-orang gomongin buku ini mba, tapi aku belum baca. Krisis identitas juga aku banget beberapa bulan kebelakang, suka takut sendiri menghadapi hidup, apalagi aku fresh graduate tapi lansung dihadang Corona, rasanya itu hopeless banget, meraba-raba nggak tahu mau ngapain. Semua plan sehabis tamat nggak ada yang memungkinkan untuk saat ini. Hahaha curhat.

    Mba Rere, berharap mba bisa melewati ini dengan baik, aku nggak terlalu bisa ngasih kata-kata semangat, takut terdengar seperti basa-basi. Semangat mba❤❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, buku ini dicovernya dilabeli best seller, walaupun gatau juga pihak mana yang kasih label. Tapi aku suka banget sama pembahasannya, walaupun dengan perspektifnya sebagai warga Korea Selatan, tapi isu-isunya relatable banget.

      Well sebagai fresh grad dengan tanpa adanya pandemi aja udah struggle banget, ditambah dengan keadaan lagi kaya gini pasti makin serba bingung dan susah.

      Its okay, thankyou ^^ semoga kita bisa menangani ini semua yaaa.

      Delete
  2. Waah menohok sekali pos kamu.... Tiap mampir ke sini, aku tuh serasa dapet wejangan hidup gituu loooh hehe
    Makasih yak atas sharingmuu ^^

    Aku pun pernah di posisi "Aku ingin barang branded itu karena teman-teman pun pada pakai barang ber-merk"
    Tapi setelah beli satu barang yang menurutku cukup bermerk, hasilnya apa?? Perlakukan orang di sekelilingku pun ga ada bedanya dengan aku pakai barang yang biasa aja....Cuma self esteem ku aja yang ingin dapet pengakuan bisa punya barang branded...
    Tapi aku salut sih sama kamu yang bisa nahan-nahan beli barang branded yang harganya 2x gajimuuu
    Menurutku sih untuk beli barang itu, ya memang harus disesuaikan juga dengan keuangan yang kita punyaa..Jangan demi memuaskan hasrat dan ingin "dipandang" dengan barang branded malah membuat kita krisis keuangan... Toh mereka yang "mandang" kita pun ga akan bantu kita dalam krisis keuangan kita karena beli barang itu kaan hehehe

    once again, thank you ya sharingnya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menohoknya menular ya kak wkwkwk

      Aku lebih mungkin lebih mudah karna nggak terlalu banyak teman, tapi Kak Frisca di sana pasti lebih susah buat nahan karna temen-temen pakai yang bermerk. Mungkin memang sudah sifat alamiah kalau orang orang itu ingin selalu dapat pengakuan, jadi selalu ada naluri kalau ingin kelihatan lebih baik atau setara sama yang lain.
      Tapi mengusahakan 'wants' over 'need' itu agaknya bikin aku keberatan. Jadi kaya yang Kak Frisca bilang, "Jangan demi memuaskan hasrat dan ingin dipandang dengan barang branded malah membuat kita krisis keuangan." Selama kita nggak pakai barang yang dibeli dengan uang yang dihasilkan sendiri kenapa harus malu.

      Thank you udah mampir ke sini, kak ^^

      Delete
    2. Setuju dengan Ci Frisca! Menurutku kalau ingin beli sesuatu, harus disesuaikan kembali dengan kemampuan kita. Dan, harus diingat bahwa barang-barang mahal tersebut, perawatannya juga mahal jadi harus benar-benar berpikir ulang jika ingin membeli suatu barang branded 😂.

      Anyway, nice sharing, Re! Buku Jeong Moon Jeong memang bagus sekali! Aku juga suka 🥰❤️

      Delete
    3. Ah iya betul juga kenapa nggak kepikiran kalau perawatannya mahal, bisa jadi pertimbangan nih tiap mau beli sesuatu yang branded.

      Bener banget, buku ini membahas sesuatu yang deep dan terjemahannya pun pakai bahasa yang mudah dipahami.

      Delete
    4. Iya jadi yauda deeh aku beli barang yang bagus tapi ga mahal2 banget gituu... At least awet lama gituu. Apalagi sekarang sejak Corona begini, jarang aku pergi keluar. Sepatu atau tas sekarang ngendog di rumah jugaa 😅 Jadi sayang aja kalau beli barang mahal-mahal tapi jadi jamuran di lemari haahaha

      Bener tuh kata Lia, kalau barang branded jadinya kitanya lebih 'gimana' gitu ngurus si barang itu ahaha

      Delete
    5. Haahahaha barang bagus harga reasonable dan dipakai sama baju apapun masuk tetep jadi juara sih. Walaupun barang mata sama angan seringkali tergoda wkwkwkw

      Delete
  3. Hallo salam kenal. Ulasan yang reflektif dan imajinatif, reflektif karena bahagia itu tidak bisa dibeli dengan harga tas mahal ala para artis papan atas, melainkan mengukur diri antara kemampuan dan keinginan. Pernayataan penutup tulisan ini.

    Imajinatif karena tulisan ini unik menurut saya. Dia berada diantara reviuew tas dan curhat namun tak nampak karena polesan aksara hati yang keren.

    Tulisan yang unik, mengandung pesan humanist yang keren. salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Kak Martin, terimakasih pujiannya hahahaha I can't handle that kind of compliment.
      Untuk tulisan ini curhatnya sedikit berlebihan ya hahahaha tapi alhamdulillah pesannya sampai. Menyenangkan diri sah-sah saja, tapi membeli sesuatu di luar kemampuan tuh sedikit berlebihan, apalagi untuk benda yang setiap tahun nilai tukarnya berkurang.

      Delete