What If ...

by - Sunday, March 22, 2020


Covid-19, sebuah virus yang begitu cepat menyebar sampai terlalu malas kalau harus menghitung siapa saja orang yang sudah dihampirinya. Hoax bertebaran, semua orang ketakutan, panic buying, dan tiba-tiba semua orang menjadi OCD. Dan satu lagi perekonomian terhenti sedangkan harga pasaran sangat tidak stabil.

Merugikan? Merugikan sekali untuk orang yang tidak mampu berobat atau kabur ke tempat yang lebih aman seperti aku ini.

Aku inget banget awal-awal pas orang dari luar negeri pada turun ke Indonesia buat nyari persediaan masker, dan aku terhitung cukup ngikutin gimana harga masker sampai bisa berubah sedrastis itu, sampai aku kepikiran kalo aku pengen jualan itu di amazon biar orang-orang luar bisa beli langsung tanpa lewat makelar-makelar ini.

Dan begitu pandemi ini mulai merebak ke Indonesia, semua orang kalang kabut mencari masker sedangkan persedian masker kebanyakan sudah ditandon makelar. Yah, walaupun WHO pun menegaskan kalau pengaruh penggunaan masker tidaklah signifikan untuk mereka yang bukan penderita tapi tetap saja tidak menghentikan banyak orang untuk membeli dalam jumlah yang banyak.

16 Maret 2019, Pemerintah mulai menghimbau kepada sekolah-sekolah untuk meliburkan anak didiknya. Beberapa perusahaan juga memberlakukan kebijakan-kebijakan untuk karyawannya, mulai WFH (Work From Home), sistem shift, dan masih banyak lagi. Dan aku juga cukup bersyukur karna perusahaan tempatku bekerja cukup baik dalam kebijakan preventing sampai menyiapkan beberapa box masker, membenahi kran air, dan menyiapkan handsoap walaupun terbatas di satu titik saja.

Kekhawatiranku berlanjut ketika mendapatkan info data berapa banyak pasien (pas aku nulis ini ada 369 pasien yang positif, 17 orang yang berhasil sembuh dan 32 orang yang meninggal), aku takut wabah ini cepat menular dan melumpuhkan semua sistem. Aku takut kalau sampai perusahaan harus berhenti beroperasi untuk sementara, aku takut kalau ini akan berlangsung lama, apalagi ini sudah jelang bulan Ramadhan. Kemarin juga ada info kalau para perantau dari kota-kota besar dianjurkan untuk tidak pulang kampung dulu, which is sad but good for human around. Dan itu yang paling bikin aku semakin takut.

Bayangkan saja dengan kemungkinan lockdown (but the president announce that there would be rapid test instead of lockdown), aku berdiam diri di kos tanpa pendapatan tapi tetap saja aku butuh makan tetap saja ada pengeluaran. Aku pengen pulang tapi kalau semua transportasi umum dibatasi mau bagaimana?

Aku berusaha memikirkan semua kemungkinan terburuk dan menyiapkan semuanya agar tetap bisa bertahan, tapi enggak bisa, i have no idea to staying here. Belum lagi masih ada kemungkinan kalau aku bakal terjangkit juga, biaya berobat mahal apalagi dengan jenis penyakit yang masih baru seperti ini.

Apa yang aku lakuin sekarang?

Karena tempatku bekerja masih terus beroperasi jadi aku masih masuk monday to saturday 8-5, selepas itu aku gak ada keluar rumah lagi even keluar kamar cuma buat ke kamar mandi. Weekend aku berusaha banget gak keluar rumah, tapi gatau aku ini rebel atau apa, aku tetep masih pengen keluar, sumpek banget cuy mandangin tembok terus.

Persediaan makanan?
Berusaha aku lengkapin at least untuk satu minggu dan memanfaatkan hari minggu buat belanja biar  gak harus memborong banget, apalagi aku nggak tahu kapan ini akan berakhir dan bisa beroperasi dengan normal.

Alat pelindung diri?
Masker disediakan kantor di kos aku juga ada 2 masker kain kalau dibutuhkan, masih ada sisa hand sanitizer, wetwipes juga ada. Kaos kaki selalu pakai, kalau perlu aku juga ada sarung tangan.

Lalu apalagi?

Iam so sorry, kalo postingan ini tidak enak dibaca, tidak koheren, tidak runtut dan tidak ada intinya. Aku cuma ingin menuliskan semua kecemasanku saja.



You May Also Like

4 comments

  1. sama-sama cemas, dimana-mana cemas kok mba.
    Semoga virus ini segera lenyap dari muka bumi! aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayanya gak banyak pihak yang diuntungkan gara-gara virus ini. aamiin, semoga sesegera mungkin.

      Delete
  2. Inevitable alias tidak bisa dihindari. Mungkin seperti itulah perumpamaan yang pas untuk wabah ini.

    Berusaha tetap waras di tengah ketidakwarasan harga dan kondisi seperti ini jelas bukan perkara mudah.

    Menurut saya, apa yang dirimu lakukan sudah cukup bijak mbak. Belanja seperlunya, keluar sesekali saja, penggunaan APD, hingga alat-alat kebersihan diri.

    Kita semua berharap wabah ini segera berlalu (dengan kita dan orang-orang terdekat kita selamat melaluinya). Sekarang yg paling penting adalah melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah things getting worse.

    😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah sekarang udah nggak separanoid itu. takut masih ada tapi setidaknya udah gak se'tidak-tahu' pas kemaren nulis itu, jadi at least ngerti gimana caranya jaga diri.
      semoga wabah ini segera berhenti makan korban, udah itu aja doanya.

      Delete