Stop Tonton dan Bahas Prank Ojol

by - Sunday, December 08, 2019

sumber gambar : kliktrend

Akhir-akhir ini aku sering banget nemuin postingan entah di facebook maupun di twitter yang niatnya mengecam para 'content creator' yang menjadikan prank ojol sebagai sebuah konten di youtube maupun instagram. Alih-alih membuat tontonan semacam ini hilang, tapi malah gepuk tular alias 'menyetrum' content creator lain untuk membuat konten serupa.
sumber gambar : Kompasiana

Well, yang aku lakukan sekarang memang emang gak sesuai sama judulku, tapi biar aku luruskan biar cukup aku orang yang nggak suka dan masih ngobrolin soal ini. Pertama, aku nggak pernah sekalipun nonton video tersebut karna aku merasa aku nggak mau buang-buang waktuku buat ngasih uang ke orang yang melakukan cara yang aku nggak suka. Kedua, baru kali ini aku akan membahas dengan sangat detail.

Q : Terus Nyil, kalo kamu nggak pernah nonton emangnya sumber datamu  valid buat disimak dan diikutin?

A : Tentu saja valid, karna aku nggak akan mengkurasi isi detail dari video tersebut, melainkan kenapa kita gausah nonton ataupun membahas hal tersebut.

Mari kita bedah satu-satu. (Aku mengkhususkan youtube saja berhubung aku sendiri nggak terlalu menggukan instagram)

1. Bagaimana mereka mendapatkan uang.
Make money, gain money. From insidejamarifox

Seorang 'yutuber' mendapatkan uang dari penonton videonya. Untuk lebih spesifiknya adalah seberapa lama video tersebut ditonton (watch time) dan seberapa banyak iklan yang muncul dalam video tersebut diklik. Jadi kalo sebuah video sudah ditonton dan kanal youtube tersebut sudah mengaktifkan adsensenya, sudah pasti video tersebut mendatangkan uang untuk si pemilik kanal. Pihak Youtube nggak peduli ya sama yang nonton sedetik cuma untuk ninggalin komentar jelek ataupun dislike, bagi mereka semakin watch time video tersebut banyak maka mereka menganggap video tersebut memang disukai.
Simpelnya gini deh, kalo kamu suka sama perawakan seseorang, secara gak sadar kita bakal mandangin orang tersebut terus-terusan, nggak peduli kamu memang sengaja atau tidak. Nah begitulah cara kerja monetisasi youtube. Jadi kalau kamu nggak suka ya gausah nonton, kalau suka ya monggo.

2. Sharing ditambah Trending sama dengan Advertising   
sumber gambar : Cutesypooh

Sama halnya dengan produk, variabel masih sama, semakin banyak suatu produk dibagikan dan dibicarakan maka semakin besar kemungkinan produk tersebut akan terjual. Nggak peduli dengan pembelian untuk benar-benar dipakai atau beli karna ikut-ikutan temen aja, yang penting produk tersebut dibeli. 

Contoh konkritnya gini, kamu posting soal jijiknya kamu di video makeover toilet umum, postingan tersebut dilihat 10 orang dan dikomentari sama 5 orang temanmu. Nah kemudian, 3 dari 2 orang temanmu ikutan nonton video itu. Dan dari 10 orang yang melihat postinganmu, bagaimana kalau mereka semua ikut-ikutan membicarakan hal tersebut? Berapa banyak orang yang kemudian menonton video tersebut berangkat dari postinganmu? Berapa banyak dolar yang didapatkan si pembuat video makeover toilet hanya karna postingan jijikmu itu?  Dari sini saja udah kelihatan kalau kamu sudah berhasil menginfluense orang untuk nonton video makeover toilet, dan secara tidak
sengaja kamu udah mengiklankan video yang tidak kamu suka secara cuma-cuma.
So, kalau kamu nggak suka, yasudah berhenti di kamu saja jangan ajak orang lain ngehate ataupun nonton kalau kamu nggak mau mereka menguangkan kegiatan kamu tersebut.

3. Ada Gula Ada Semut, dari mana datangnya uang, kami akan turut menjemput.
semuanya ingin mencetak poin dengan bola yang sama. tumblr

Mengambil contoh dari ilusrasi di nomor dua, apa yang kemudian akan terjadi jika video makeover toilet yang tersebut berhasil mendatangkan banyak view dan terus-terusan diobrolin sama banyak orang? Bisa jadi video tersebut menjadi viral, alias ditirukan dan dibuat ulang oleh content creator lainnya. Itu artinya, akan ada video makeover toilet lainnya di platform yang sama ataupun platform lainnya, akan ada banyak orang yang mendapatkan uang dari video yang kamu anggap menjijikkan.


Sampai di sini kamu yang baca pasti paham kan kalau tiga poin di atas sangat berhubungan. Jadi itulah pentingnya tidak menonton  dan membicarakan sesuatu yang kita nggak suka, khususnya konten yutub.

Q : Tapi Nyil, kalo aku udah nggak nonton tapi video tersebut masih trending dan viral gimana?

A : Itu kan, di luar kendali kamu. Setidaknya kamu nggak ikutan berkontribusi dalam menonton ataupun mengiklankan video tersebut.


Sebenernya ini bukan soal prank ojol aja, tapi berlaku pula untuk konten apapun yang kamu nggak suka. Itu pun tetep terserah kamu sendiri, kalo masih mau nonton ya silakan, kalo masih mau ngobrolin ya silakan. Toh kamu nonton nggak aku ragati, tapi inget yang kamu lakukan itu bisa menguntungan orang yang sudah membuat konten tersebut.
sumber gambar : primetweets

Seriously, aku masih belum puas sama tulisan yang ini. Kayanya masih ada banyak uneg-uneg yang aku sampaikan soal konten meresahkan yang tiap hari menghiasi tab trending youtubeku. Mungkin nanti aku bakal update kalau-kalau ada kalimat yang pas untuk ditambahkan.

Dan buat kamu yang sudah baca tulisan ini dan nggak suka sama prak ojol ataupun konten meresahkan lainnya, aku harap kamu nggak memakan iklan ini dan ikutan nonton video tersebut. Cukup selesai di aku saja.

You May Also Like

2 comments

  1. Setuju bgt! Saia juga berdiskusi dng anak anak soal tidak perlunya menonton tayangan prank prank yg tdk inspiratif. Apalagi prank ojol ini. Kebangeten menurut saia. Dan anak anak setuju.yess, cuma menuh menuhin otak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimana ya, kita sepakat kalo adegan lempar lemparan tepung di tv itu bukan lagi lelucon tapi udah masuk kekerasan. Tapi malah membawa tontonan macam ini ke youtube. Nyatanya yg kaya gini lebih gak asik karna melibatkan orang yg sebelumnya gak dikenal tanpa perjanjian di depan. Tentu tv lebih baik dalam hal ini, karna sejak awal perjanjian talent memang dibayar untuk ini.
      Duh, walaupun tujuannya hiburan tolonglah untuk nggak merugikan orang lain.

      Delete