Taman Sejarah, Wisata Malam di Atas Medan Pertempuran

by - Wednesday, November 20, 2019


"Weekend kemana, Nyil?"

Pertanyaan senada selalu dilayangkan setiap akhir Minggu. Padahal seriously aku sama sekali nggak punya itenary yang menarik. Apalagi aku nggak ada orang yang benar-benar kenal deket sama aku dan mau aku ajak mondar-mandir, atau nungguin barang belanjaan sementara aku lari-larian nyari gambar bagus. Jadi ya paling banter cuma nge-mall aja, window shopping, main ke timezone dilanjut makan cantik di foodcourt, hampir tiap weekend.

Hingga hari Minggu kemaren aku iseng ngajakin temen sekos ke ITC Surabaya. Untuk menghemat ongkos aku sengaja naik angkutan kota alias Lyn dan turun di JMP, dari sana niatku sih mau naik grab aja, tapi temenku bilang kemahalan. Alhasil aku ngikutan dia naik Bentor aka Becak Motor dan cuma kena biaya 10ribu saja sekali jalan.


Jalan Kembang Jepun, Sampai saat ini aku belum tau nama
bangunan ini apa. Kayanya sih cuma ruko biasa.
Jujur sih tujuan aku ke sini memang bukan buat belanja tapi pengen lihat gedung-gedung dengan arsitektur ala masa-masa lampau. Aneh memang, aku punya ketertarikan sama hal-hal kaya gitu. Rasanya kaya aku lagi mengenang masa lalu, jaman di mana mungkin aku belum lahir ke dunia. Bukan cuma arsitektur, baju-baju gaya vintage apalagi yang ala-ala maid Eropa, film, bahkan aku suka bau buku-buku lama yang bener-bener udah menguning isinya.

Pemandangan dari parkiran ITC.
Di ITC tentu saja aku nggak ngapa-ngapain, kaya cuma numpang makan sama ibadah aja. Gimana ya, sepi sih enggak tapi juga nggak rame. Yang paling berkesan sih paling cuma teriakan mbak-mbak nawarin barang. "Ayo Bu sepatunya, beli kiri dapat kanan. Pegang gratis bawa pulang bayar, kalo nggak bayar saya kejar." Nggak taulah kenapa orang kantor pada nyaranin aku buat main ke ITC.
Halaman depan ITC.
Sekitar jam setengah lima, aku ninggalin ITC. Naik bentor lagi ke JMP biar enak cari lyn ke rumah. Tapi begitu sampai JMP, temenku ngajakin duduk-duduk dulu di taman depan.

Jembatan Merah Plaza yang bangunannya terkesan kuno dan antik.
Katanya sih ini namanya Taman Sejarah, tapi di plakat-plakat ditulisnya ini Taman Jayengrono. Di website Kominfo Pemprov Jatim menyebutkan kalau taman ini berulangkali berganti nama. Dan orang sekitar lebih sering menyebutnya taman sejarah, karna konon katanya tempat ini menjadi salah satu lokasi pertempuran habis-habisan warga Surabaya dalam melawan penjajah. Wikipedia menyebutkan bahwa Jenderal A.W.S Mallaby tewas tertembak di dekat Gedung Internatio (berlokasi persis di sebelah Taman Sejarah) ketika akan melewati Jembatan Merah, dan hal itu memicu pertempuran habis-habisan pada tanggal 10 November yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Okay sampai di sini aku miris.

Tempat yang dulunya menjadi lokasi dari aksi historis kini menjelma menjadi taman keluarga. Dan meskipun sudah ada plakat-plakat 'Dilarang Pacaran', tapi itu nggak menghentikan muda-mudi untuk menghabiskan waktu bersama kekasih di sini. Bahkan ada yang melakukan photoshoot Pre-Wedding. Jadi aku belum mendapat korelasi antara sejarah dan adanya taman ini.

Bukannya aku terganggu sama keberadaan mereka, toh mereka juga punya hak yang sama untuk main di sini. Tapi ada perasaan aneh aja gitu. Entahlah rasanya cuma aku aja yang ngerasa gini, toh warga sekitar banyak yang senang.
Arena bermain pasir dan tempat duduk mengeliling taman.

Air Mancur di tengah taman.
Tapi di samping itu aku apresiasi sih untuk pembangunannya yang tidak main-main. Mulai dari tempat duduk yang lumayan banyak, arena bermain pasir. Dan yang paling disukai dari tempat ini tidak lain adalah trotoar sempit yang diberi lampu hias bambu runcing dan stringlight yang dibuat melengkung seperti lorong, alias spot fotonya. Instagramable? ya tergantung. Tapi buat yang udah main ke sini tapi lupa bawa kamera atau kurang puas sama jepretan dari henfon, tenang aja di sini ada fotografer freelance yang siap motret. Untuk harga sih aku nggak nanya ya, cuma mereka sempet nawarin pas aku lagi ngambil gambar lorong ini.

Lorong stringlight.
Aku suka suasana di sini menjelang petang sebelum lampu hias nyala karna belum ramai orang yang mau foto. Melihat angkutan umum lewat di antara gedung-gedung bergaya Belanda, rasanya kaya otentik aja gitu. Rasanya kaya ngelihat foto-foto di buku sejarah secara liveview.




(kebetulan fotonya nggak ada karna sibuk ngobrol.)





You May Also Like

2 comments

  1. keren banget, pengen jalan jalan kesana

    ReplyDelete
  2. kalo buat spot fotonya emang keren mbak, apalagi kalo yang ambil gambar jago. ditunggu kunjungannya.

    ReplyDelete