Hujan Malam Minggu, Sebuah Cerita Pendek

by - Tuesday, November 05, 2019

Ini ngide aja sih, pas pulang kerja malah kejebak hujan pertama.Nggak tau bakal diselesaiin apa enggak.

***
Rungkut, Surabaya.

Malam minggu seringkali menjadi momok untuk sebagian orang. Apalagi dengan ribuan jokes jomblo yang tersebar di twitter yang menjadikan malam minggu sebagai salah satu objek. Padahal menghabiskan malam minggu sendirian tidaklah seburuk itu. Yah, setidaknya aku merasa biasa saja duduk sendirian di salah satu restoran cepat saji seperti yang aku lakukan malam ini.

Aku sengaja memilih untuk duduk di dekat jendela, memandangi jalanan di luar yang sedikit lengang karena hujan mengguyur bumi Surabaya sejak sore tadi. Rasanya sebagian besar orang memilih untuk tetap di rumah, sedangkan sisanya enggan meninggalkan tempat tujuannya sampai restoran yang biasanya hanya terisi 5-6 meja, saat ini malah berjubelan.

Ice coffee di depanku sudah hampir habis ketika seorang perempuan berseragam SMA berdiri di depanku sambil melayangkan tatapan tidak mengenakkan. "Permisi, mbak. Kursinya dipakai, nggak?"

Aku menggeleng pelan, dan sepersekian detik kemudian perempuan itu sudah menarik kursinya ke antah berantah.

Aku memang serakah, menempati meja yang biasa dipakai 4 orang sendirian. Pada hari biasa tidak akan ada yang menatap kesal, tapi tentu saja tidak berlaku di hari yang super padat ini.

Sejenak aku teringat hari itu, hari dimana kamu selalu membiarkan aku menyendok semua ayam di mangkok sotomu atau menyelesaikan PR lebih awal supaya aku bisa menyalinnya tanpa terburu-buru. Atau bahkan ketika aku selalu memintamu untuk menungguku sementara aku ikut rapat panitia OSIS di hari libur, dan kamu dengan terpaksa mengangguk menyanggupi dalam senyum abu-abu.

Hingga akhirnya lulus dan kamu memutuskan untuk mengambil sekolah di luar kota. Kamu selalu menyempatkan diri untuk menemuiku di hari Minggu untuk makan siang, di sela-sela jam kuliah dan jam kerjamu. Dan aku selalu memaksamu untuk sebisa mungkin pulang menemuiku di malam Minggu.
 
Empat tahun yang lalu ...
"Dit, kamu nanti malam ke sini kan? Aku pengen nonton Divergent," pintaku kepadamu lewat telepon.

Kudengar kamu menghela napas berat. 

"Dit? Bisa, kan? Ayolah Dit, minggu ini udah terakhir tayang." seperti biasa aku selalu memaksamu agar semuanya berjalan sesuai rencanaku.

"May, Minggu aja, gimana? Sabtu malam aku harus lembur."

"Tapi Dit ... kalo lemburnya diganti hari Minggu nggak bisa, apa?"

"Oke aku usahain."

Dan benar, malam Minggu kamu datang dibalut dengan seragam kebangsaanmu, kemeja flanel dan jeans hitam.  Aku segera menggandengmu menuju Studio 1, tempat film yang aku suka diputar. Kamu hanya mengikuti dan sesekali melontarkan senyum masam.

Selama film diputar aku hanya sibuk dengan diriku sendiri, dan seperti biasa kamu selalu menghargai keinginanku untuk tidak berbicara. 

"May?" panggilmu begitu kita keluar dari bioskop. 

"Iya, Dit" Aku menjawab lirih sambil meraih lenganmu.

Dan kamu berhenti sepersekian detik kemudian, begitupun aku. "Maaf, aku nggak bisa nemenin kamu lagi."

Aku mendongak menatapmu. Aku bisa melihat bahwa kamu mengucapkannya tanpa beban. Tapi lidahku masih kelu dan otakku masih berusaha mencerna apa yang barusan kamu ucapkan. "Hah? Gimana?" tanyaku dengan sedikit terbata.

"Aku mau kamu nggak melibatkan aku dalam rencanamu selanjutnya, May. Kita udahan aja."

Aku masih diam menatapmu, merekam setiap detik pergerakan bibir dan mimik wajahmu. 

Bagiku, putus hubungan denganmu tidak ada di buku jurnalku. Bahkan tak sekalipun pikiran seperti itu lewat di otakku. Sehingga aku tidak bisa merangkai kata yang bisa diucapkan di saat seperti ini. 

"Di luar masih hujan, May. Aku antar ya."

"Nggak perlu Dit, aku mau naik taksi online."  

Harga diriku rasanya sale 90% setelah diputuskan, dan aku tidak ingin menambah 10% lagi untuk diantar mantan yang baru saja memutuskanku. Walaupun pikiranku caruk-marut memikirkan alasanmu yang tentu saja sudah sangat jelas itu. Tapi setidaknya aku tahu, aku harus pulang ke rumah sebelum air mataku tumpah.

"Permisi, mbak?" Suara berat tersebut mengaburkan semua lamunanku. Aku sedikit mendongak untuk melihat si pembuat suara, sosok tinggi dengan Polo T-Shirt Puma berwarna navy.

"Iya, kenapa?" responku lirih.

"Kursi ini ada orangnya?"

Aku menggeleng lemas.

"Boleh saya duduk di sini? Sudah nggak ada tempat lagi soalnya."

Sekali lagi aku hanya menanggapinya dengan isyarat anggukan pelan tanpa melihat sekeliling.

"Hujannya makin deras di luar," ujarnya basa-basi setelah menyesap kopi-entah-apa-namanya itu.

Obrolan cuaca bagiku memang basa-basi semata, tapi begitu  selesai denganmu rasanya obrolan cuaca memang lebih menarik daripada dirundung pertanyaan soal keseharian.

"Iya, hujannya lagi bagus," sahutku. Bagus untuk putus.

tbc ....









You May Also Like

2 comments