Flashback, November 2016

by - Saturday, November 16, 2019

source : Zazzle

Hello November,

Rasanya nggak pas bilang begitu berhubung November udah setengah jalan pas aku nulis ini.
BTW kalo aku flashback ke tiga tahun yang lalu, tepatnya November  2016, rasanya masih mimpi aja aku bisa sampai di keadaan yang seperti ini. Well aku belum sesukses itu dan kerjaanku pun bukan sesuatu yang bisa aku banggain, tapi how about to take a look in to that time.

Aku nggak bisa lolos SNMPTN dan mustahil bagi orang tuaku buat ngebolehin aku ikutan tes SBMPTN, karena SNMPTN aja aku ikut cuma coba-coba berhadiah tanpa bilang ke mereka. "Kamu kan belom nyoba jadi ngapain kamu kecewa?" Aku kecewa karna ternyata di sekolah aku tidak tumbuh sebaik itu sampai ditolak PTN, dan aku juga kecewa sama diriku sendiri karna memang gak mampu memperjuangkan keinginanku untuk kuliah dan bahkan meyakinkan orang tua kalo aku bener-bener butuh kuliah saat itu.

Disusul dengan kenyataan kalau nilai ujian akhirku nggak memuaskan. Aku benar-benar malu sampai lari sana-sini untuk mencari kebenaran kalau aku nggak sebodoh itu. Tapi nyatanya hal kaya gitu malah membuatku ngerasa sangat bodoh.

Selepas sekolah, aku kelimpungan mencari kerja. Aku memang nggak punya kendaraan sendiri, jadi kemana-mana memang harus naik angkutan umum. Dan itu seringkali jadi pertimbangan ketika aku interview kerja.

Alhasil awal November 2016 aku masih menganggur.


Teman-temanku dengan mudahnya mendapatkan kerja walaupun hanya sekedar menjaga toko, sedangkan aku mau menjaga toko aja terhalang dengan tinggi badanku. Dan one of my close friend told me, "Kamu mau kerja apa? Mending gausah ngelamar di toko soalnya pas aku liat di mall-mall, memang mereka harusnya tinggi biar bisa ngambil-ngambil barang."

IAM SO -fkn- DONE
source : Pinterest


Karyawan tokopun nggak masuk kriteria.

Dan kemudian seorang tetanggaku nawarin aku kerjaan, di Surabaya. Dia bilang keponakannya udah kerja di sana dan temennya resign, jadi keponakannya itu minta dicariin temen lagi. Tolong jangan tanya kerjaannya apa, karna aku malu banget, no bukan kerja di warung remang-remang atau apa tapi ini bener-bener bikin aku malu. Aku yang waktu itu bener-bener nggak tau mau ngapain aku iyain aja.

Tapi begitu aku bilang ke Mbahku, dia menolak mentah-mentah. Dia bilang, "Aku udah nggak punya uang lagi buat ngasih kamu uang saku buat nyari kerja, aku rasa udah cukup sampai situ aja aku ngasih kamu uang saku."

Jujur aku marah waktu itu. Tapi mengingat apa aja udha mereka lakuin buat aku, rasanya wajar kalau mereka bilang  kaya gitu. Lagipula anaknya masih SMP, masih butuh banyak uang untuk ke depannya.

Tapi aku nggak nyerah waktu itu, aku nyari pinjeman uang ke Mbah Buyutku. Iya pinjam. Aku lari-larian ke rumah tetangga buat minta tolong dianterin ke kantor travel terdekat buat keberangkatan esok hari.



source : Pinterest



Dan yah November 2016, pertama kali aku menginjakkan kaki di Surabaya, untuk pekerjaan yang asdfghjkl. Dan begitu sampai sana aku bekerja dengan seorang teman, sumpah tiap pagi dan malam aku nangis. Aku gak suka ngeliat diriku sendiri melakukan pekerjaan seperti ini.


Dan puncaknya, seminggu setelahnya, temanku yang bekerja di sana bilang mau udahan kerja karna kangen sama orang tuanya dan nggak akan balik lagi. SUMPAH AKU BENAR-BENAR PENGEN MENGUMPAT KALO INGET ITU. Dia yang minta dicariin teman, pas aku temenin dia malah mau udahan, aku baru seminggu ya mana bisa bertahan.

Pas pulang aku dimarahin habis-habisan, apalagi aku pulang nggak membawa uang dan malah pulang dengan hutang.

Selepas itu aku bener-bener kaya orang bego. Yang aku kerjain cuma diem di kamar, nangis, jedotin kepala ke tembok dan segala macem. Aku ngerasa nggak berguna dan nggak layak hidup lagi.


source : Pinterest

November 2016, masih menjadi bulan yang kelam dalam ingatanku. Ditambah beberapa kejadian yang nggak mungkin aku tulis di sini.

source : Pinterest

Sebenernya aku nggak nyesel udah ngelewatin hari-hari yang seperti itu, toh kedepannya mau nggak mau masih banyak hal yang lebih sulit lagi. Menengok November 2016, bikin aku sadar, aku bukanlah orang yang sepele dan nggak ada satu orangpun yang boleh melihatku dengan sepele. Aku ingin suatu hari nanti aku bisa berjalan tanpa ragu dengan dagu terangkat, melenggang percaya diri tanpa peduli ucapan orang lain.

You May Also Like

2 comments

  1. Amin Ya Rabbal Alamin,
    "Tidak ada satu pun orang yang berhak untuk menilai apakah kita berguna ato tidak"
    Kitalah yg harus menentukan nilai kita sendiri. Kita punya pilihan untuk menentukan ingin menjadi orang seperti apa.. Jadi jangan berkecil hati,, kita semua sungguh sangat berharga,, semangat dek Rere

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Kak. Aku suka kalimatnya, "Tidak ada satu orang pun yang berhak menilai apakah kita berguna atau tidak."
      Kadang keadaan memang memaksa kita untuk mengesampingkan pilihan, tapi kalo apa yang kita mau masih diteguhkan, aku rasa Yang Kuasa bakal nyiapin cara lain untuk ke sana.

      Delete