Already End, Sebuah Cerpen Gak Jelas

by - Thursday, June 25, 2015



Aku tersentak. Mataku kukerjapkan beberapa kali dan mengumpulkan seluruh nyawaku. Setelah pikiranku bangkit, aku menyadari aku baru saja tertidur telungkup di meja. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, hanya ada orang-orang yang duduk dengan formasi yang hampir sama. Berdua, laki-laki dan perempuan. Atau bertiga, laki-laki semua atau perempuan semua. Terkadang seseorang dengan menggunakan celemek menghampiri tempat mereka. Orang lain yang juga menggunakan celemek berdiri di satu sisi, terhalang meja yang tingginya hampir sedada orang itu.
Aku tertidur di cafe. Segera kulihat jam tangan coklat yang melekat di lengan kiriku. Jam empat sore. Ya Tuhan, sudah dua jam penuh aku di sini. Dan orang yang aku tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sandy memang sialan. Dan kejadian ini menambah nilai sialannya di mataku. Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa diriku dulu bisa menerimanya menjadi pacar. Mungkin karena aku dan dia punya banyak persamaan. Sama umur, sama sifat. Padahal aku sangat menjujung tinggi perbedaan, diantara sepasang kekasih tentunya. Sedangkan perbedaanku dengannya hanya sebatas beda tinggi, beda jenis kelamin, beda sekolah, beda rumah, beda orang tua. Cukup banyak ternyata.
“Permisi, mbak ...” panggiku kepada pelayan yang berdiri di balik meja sambil mengangkat tangan. Dan tidak sampai satu menit perempuan tinggi dengan rambut panjang yang diikat itu sudah ada dihadapanku.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?”
Moccachino satu.”
“Yakin, mbak? Mbak sudah habis tiga moccachino, loh,” katanya sambil memberi isyarat kepadaku untuk melihat meja. Sejenak aku kaget, tapi menurutku itu wajar karena aku sudah cukup lama di sini.
“Iya, mbak. Moccachino satu, gak terlalu manis.” Perempuan yang kutaksir umurnya tidak jauh denganku itu tersenyum sekilas lalu berbalik ke tempatnya semula.
Tak lama perempuan tinggi itu kembali dengan membawa pesananku di nampan. Diletakkan gelas ,yang sampai saat ini belum juga ku ketahui bahannya, itu di meja. Dia memberi isyarat bahwa pesananku sudah siap.
“Silakan. Oh iya mbak, ada titipan,” katanya sambil mengambil sesuatu di saku celemeknya dan diletakkan di meja. Flashdisk.
“Dari siapa ini, mbak?” Aku mengambil benda berwarna hitam itu sambil mengamatinya, berharap kalau aku kenal dengan benda itu.
“Dari cowok. Tinggi terus pake kacamata.” Aku mengernyit.
“Oh gitu, makasih mbak.” Kuberikan senyumku ke perempuan yang kini sudah kembali ke terminalnya sambil membawa nampan kayu yang tadi digunakan untuk membawa pesananku.
Sialan lu, San. Jadi lu minta ketemu cuma mau ngasih aku flashdisk. Gue udah males ngerjain tugas lu, gue punya tugas sendiri. Terus apa gunanya gue nunggu lu selama dua jam sampai ketiduran? Aku hanya bisa mengumpat dalam hati sambil meraih gelas dihadapanku, membuka tutupnya, dan menyeruputnya. Panas. Aku berusaha menahan rasa itu, aku tidak mau diperhatikan orang.
Setelah menghabiskan moccachino yang tadi ku pesan dan membayarnya, aku pun berniat untuk pulang ke rumah. Rumahku tidak jauh dari cafe yang tadi, tidak sampai lima ratus meter. Biasanya aku ke sini pakai sepeda, tapi entah kenapa hari ini aku tidak membawa serta sepeda milik adikku yang baru di belinya dua bulan yang lalu itu. Aku melangkah menyusuri jalan, sesekali ku tendangi batu yang berserakan di jalan dengan ujung kakiku.
Sesampainya di rumah, langsung kuarahkan tubuhku ke kamar dan membantingnya di kasur. Aku tidak suka pakai ranjang di kamar, sumpek rasanya. Aku ingin meneruskan acara tidurku di cafe tadi, lagipula rumah sedang sepi ditinggal orang tua dan adikku ke rumah nenek yang katanya sedang sakit. Sebenarnya aku ingin ikut, tapi aku harus konsentrasi untuk ujian akhir bulan depan.
If I said my heart was beating loud.
If we could escape the crowd somehow.
If I said I want your body now.
Would you hold it against me
Kuraih ponsel yang terus berdering dengan nada yang sama sebanyak tak kurang dari tiga kali itu. Dengan pikiran yang belum sadar sepenuhnya, kutekan tombol hijau yang memang sudah kuketahui tempatnya tanpa melihat sekalipun.
“Hallo?”
“....”
“Hallo? Siapa?”
“Ini gue. ....”
“Apa? Gue nggak denger.” Tak lama kemudian terdengar bunyi beep. Mungkin sudah ditutup di seberang sana.
Mataku mau tak mau terbuka melihat layar ponsel yang masih menyala. Terlihat dilayar ada tiga missed call dan tujuh pesan yang belum ku buka. Ku baca satu persatu pesan tersebut.
“Maaf, Ra. Gue nanti agak telat, gue ada masalah di sekolah.”
“Ra, jam tiga aja ya.”
“Lu udah di sana?”
“Gue bentar lagi sampai, Ra.”
“Maaf, Ra. Gue kudu cepet balik. Gue liat lu juga masih tidur. Lu masih sama.”
“Gimana, Ra?”
“Jangan lupa angkat jemuran, ibu besok balik. Makanan di kulkas jangan dihabisin.”
Kalau dipikir-pikir sih, bukan semuanya salah Sandy. Dia sudah mencoba memberitahuku. Aku juga tidak sadar kalau ponselku ketinggalan. Ahh, sudahlah.
Setelah mengangkat jemuran ibu, secepatnya ku nyalakan komputerku dan menancapkan flashdisk yang tadi di lubang USB. Cuma ada satu file di flashdisk tersebut. Kuraih headset yang tergantung begitu saja dari komputer dan memasangnya di kedua telingaku. Ku buka file video tersebut.
Video berdurasi tiga puluh detik itu berhasil membuatku cengengesan tidak jelas. Walaupun hanya foto slide kita berdua dan backsound gonjreng-gonjreng tidak jelas dia menyanyi atau apa. Yang aku tahu di akhir dia bilang “Terimakasih, cinta” itupun karena ada caption seperti itu di videonya. Tanpa berpikir panjang akupun langsung menghubungi Sandy.
“Hallo, Ra?” suaranya dari seberang.
“San.” Aku berhenti sebentar untuk menghempaskan tubuhku ke kasur. “Itu lu yang buat? Sejak kapan lu belajar bikin begituan? Hahaha suara lu gak jelas, plis.”
“Udah, Ra?”
“Udah.”
“Kita udah genap tujuh bulan, kan?” Aku hanya mengangguk setelah melihat kalender di komuter, ya walaupun dia tidak bisa melihat. “Aku mau kita udahan.” Suaranya terdengar berat. Aku masih terdiam. Aku yakin dia masih punya kelanjutannya, dia pasti bercanda. Hening.
“Hahahahaha, itu gak lucu San. Mending lu belajar, deh.”
“Ra, gue sayang sama lu. Beep beep beep....”
****
Seminggu yang lalu.
Sore itu terasa begitu cepat berlalu. Aku, yang sejak siang tadi berjalan mengelilingi taman kota bersama Sandy, sama sekali tidak menyangka kalau matahari sudah menghilang peradabannya. Hal tersebut biasa terjadi, bukan? Selalu lupa waktu ketika bersama seseorang yang kita kasihi.
Bukan senang yang kurasakan, sedikit takut sedikit khawatir, mungkin seperti itu. Bisa dibayangkan, sekitar empat jam berjalan bersama kekasih tapi tanpa sepatah kata pun yang terucap darinya. Bahkan memandangku saja tidak. Aku mana berani angkat bicara.
“Lu capek, Ra?” Akhirnya dia mengeluarkan suara juga. Aku mengangguk pasrah, walaupun aku yakin dia tidak melihatku. Perntayaan yang baru diberikannya, bukanlah suatu pertanyaan yang butuh jawaban. So, aku menjawab ataupun tidak dia tidak akan peduli. Seperti itulah.
Lima langkah setelah aku mengangguk, aku merasakan tarikan kecil dari tangannya yang sejak tadi menggenggam lenganku, memberiku kode untuk mengikuti arah langkahnya. Aku menurut saja. Dia mengajakku duduk di bangku panjang di bagian timur dari taman. Dia masih menggenggam lenganku. Aku memperhatikannya kembali dari unjung kaki hingga ujung rambut untuk mengkoreksi penampilannya kali ini, lalu terpaku pada matanya yang terlihat begitu menawan dari samping karna tanpa halangan kacamata minusnya. Seperti biasa dia hanya mengenakan t-shirt, kali ini berwarna biru, dan celana jeans panjang. ­Dia masih saja cool, sudah seminggu aku tidak melihat wajahnya, terakhir ketika dia mengajakku balikan itupun di toko buku dan tanpa rencana sebelumnya.
Dia yang menyadari aku memandangnya langsung menoleh kearahku. Dia memandangku dengan cara yang aneh, entah itu kecewa atau apa yang pasti aku merasa sangat menyedihkan. Aku yang tahu hal itu akan terjadi tidak mengalihkan pandanganku dari matanya sama sekali. Dia yang akhirnya mengalihkan pandangannya.
“Ra,” panggilnya pelan.
“Hmm,” jawabku. Dengan masih memandanginya, kali ini dengan penuh harap.
“Lu nggak berubah, ya. Masih kaya dulu. Terlalu santai, terlalu cuek, terlalu dingin.”
“Maksudnya?” Aku tahu bukan itu yang ingin dia katakan.
“Gue suka sama lu, lu beda sama yang lain. Tapi akhirnya juga nggak suka elu dari situ. Lu terlalu beda.” Dia mengambil nafas panjang. “Asal elu tau, gue kemaren mutusin lu karena gue pengen lu sedikit berubah. Sorry, gue emang ngerencanain ini semua.”  Jujur aku kaget, tapi aku berusaha untuk tampak setenang mungkin, seperti biasa. “Gue pikir, pas kita balik lu sedikit berubah. Tapi kenyataannya, nihil,” lanjutnya dengan penuh nada kecewa.
“San....” Belum juga aku mengutarakan maksudku, dia sudah memotongnya. Dia seakan sedang berbicara dengan sesorang di depan sana yang tidak mungkin dia, dengar suaranya.
“Lu nggak peka, lu nggak ada manis-manisnya sama sekali.” Oke, di sini aku sakit hati. Aku tahu aku mungkin seperti apa yang dia katakan, tapi apa dia tidak sadar dia seperti apa.
“Heh, harusnya gue tau kalau ini cuma rencana lu, San. Harusnya gue nggak nerima elu waktu itu. Udah malem, gue mau pulang.” Kulepaskan genggaman tangannya pada lenganku dan melangkah pergi begitu saja.
****
Sebulan kemudian.
Malam baru saja berlalu. Ayam-ayam dari rumah tetanggaku sudah berkokok dari jam emat tadi. Walaupun aku hanya mendengarnya samar-samar dari balik headsetku, aku tahu kalau itu suara ayam. Sudah semalaman aku duduk telungkup di depan komputer seperti ini. Aku tidak bisa tidur. Aku hanya mendengar lagu dari flashdisk milik Sandy, yang dihidden dan baru kuketahui minggu lalu, sambil memandangi fotoku bersamanya yang kujadikan background desktop komputerku.
Melankolis dan berlebihan. Mungkin. Aku sadar tapi aku tidak peduli. Ujian sudah sudah berlalu tinggal namanya yang kini menghiasi setiap bagian dari otakku. Benar-benar tinggal nama, akan sangat susah untuk bertemu dengannya. Lagipula aku tidak tahu apa yang akan aku katakan kalau aku bertemu dengannya. Sandy.
I remembered the day you told me you are leaving
I remembered the face running down your face
And the dreams you left behind you didn’t need them
Like every single wish we ever made
I wish that I could wake up with amnesia
And forget about this stupid little things
Like the way it  felt to fall a sleep next to you
And the memories I never can escape

Cause I’m not fine at all

You May Also Like

0 comments